Senin, 30 Mei 2016

FAKTA SEJARAH DAN MITOLOGI PUTRI CILINAYA BAYAN





FAKTA SEJARAH DAN MITOLOGI PUTRI CILINAYA BAYAN

Mitos keberadaan Putri Cilinaya hampir ada di setiap daerah di Pulau Lombok, seperti Lombok Timur, Lombok Tengah, Lombok Barat maupun di kabupaten termuda yaitu Lombok Utara, sehingga makamnya terdapat di beberapa tempat di Pulau Seribu masjid ini.

Dari mitos tersebut terdapat nilai sejarah yang terurai dari mitologi dan cerita-cerita rakyat yang dapat memberi indikasi fakta sejarah dari suatu suku bangsa ,walaupun hal tersebut merupakan sebuah fakta,namun fakta tersebut sangat kental dengan mitos yang berkembang dalam masyarakat.

Fakta sejarah yang ditemukan di Bayan yaitu Patung Budha perempuan yang ditemukan di Dusun Bon Gontor Desa Senaru Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara, bila di lihat wujudnya berasal dari Buda India dengan dengan beberapa ciri antara lain, hidungnya yang besar dengan telinga yang panjang. Dengan fakta tersebut, memberikan petunjuk pada kita bahwa mitos Putri Cilinaya ada hubunganya dengan Budha India.

Kalau kita lihat dalam translit kitab mitos Putri Cilinaya dijelaskan bahwa Putri Cilinaya dalam sejarah dengan lambang berbentuk suatu benda yaitu patung seperti Dewa Wisnu yang pada akhirnya sebagai sebuah kenangan sejarah. Lalu apa hubungannya dengan mitos Putri Cilinaya dengan Patug Budha perempuan yang ditemukan di dusun bongontor desa senaru kecamatan Bayan?

Dalam mitos Putri Cilinaya, akhir dari perjalanannya ingin menyelamatkan diri ketika di kejar-kejar oleh pasukan dari Bali yaitu Patih Jero Tuak untuk menaklukan kerjaan Bayan dengan melaui pelabuan Carik Desa Anyar.

Putri Cilinaya-pun tertangkap dan dibunuh oleh Patih Jero Tuak sebelum sampai laut. Dalam mitos tersebut muncul kerajaan Daha dan Keling yang dalam sejarah kedua kerajaan ini (Daha dan Keling) ada diJawa Tiwur yang menganut agama Budha. Kedua Raja ini saling bermusuhan, sehingga dalam mitos Bibi Cili di Bayan latar yang sama merupakam perlambang apa yang terjadi kerajaan Daha dan Keling di Jawa.

Dalam buku sejarah Indonesia, Marwati Jaened menjelaskan anak perempuan dari Raja Daha penganut Budha hilang meninggalkan kraton sampai hayatnya sehingga dengan bukti yang ada menunjukan bahwa agama Budha masuk ke Lombok melalui Bayan sebagai tempat pengkadaran Dan ini didukung dengan fakta yg ada di Bon Gontor. Penyebar agama Budha ke Lombok tdak lain adalah Putri Cilinaya.

 Nama Putri Cilinaya  tersebut merupakan perlambang atau samaran yang dari putri raja Daha Kahuripan-Jawa Timur.Dari hasil penelusuran di masyarakat, bahwa Budha yang ada di di Tanjung Karang Panasan dan Tembanyak mengindikasikan adanya pengakuan masyarakat tersebut bahwa nenek moyang mereka berasal dari Bayan yang dulunya menganut wetu telu sama seperti di Bayan, lalu masuk agama Budha dengan paksaan sehingga mereka menyandang Budha paksa.Baru pada tahun 1970 an masyarakat tesebut menganut agama Budha yang sempurna.Dari uraian di atas penulis simpulkan bawa Cilinaya yang ada dalam mtos tersebut tidak lain penganut Budha dan penyebar agama Budha di Lombok.

 Dan ketika kerajaan Bali menaklukan Lombok, penganut Budha di basmi sedang sebagian penganutnya menyelamatkan diri melalui pegunungan ke arah barat yang skarang ada di Tanjung dan sektarnya. Sedang Putri Cilinaya meyelamatkan diri ke utara atau laut yang pada akhirya terbunuh di pesisir pantai Labuan Carik dan dimakamkan di sana berdampingan dengn makam jero tuak. Makam tersebut dikenal dengan ‘Tanjung Menangis’ dan tetap diziarahi oleh masyarakat setempat dan sekitarnya. Jadi mitos dan makam Putri Cilinaya itu ada di Tanjung Menangis,Labuan Carik  Bayan,Lombok Utara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar